Selasa, 21 Januari 2014

Spirit Multiple Intelligences untuk Keharmonisan Negeri

E.PAPER | Indonesia memang memiliki kearifan lokal di tiap-tiap daerah, Indonesia juga telah melakukan tradisi dialog antaragama, antar kelompok masyarakat yang berbeda sejak dulu kala, sejak jaman nenek moyang. Namun, keharmonisan seakan-akan tetap enggan singgah di negeri ini.. Adakah yang salah dalam diri kita? sebuah pertanyaan yang mungkin perlu renungan yang lama untuk menjawabnya..

Nampaknya kita perlu pertimbangkan kembali teori  Multiple Intelligence yang mengatakan bahwa manusia bisa belajar, berkomunikasi, dan memecahkan masalah dengan 9 cara.
yang bertumpu pada kekuatan keahlian. yaitu: (1) kecerdasan linguistik (kekuatan keahlian mengolah kata); (2) Kecerdasan Logik-matematik (kekuatan keahlian logika/penalaran dan angka); (3) Kecerdasan Spasial (kekuatan keahlian mengenali gambar); (4) Kecerdasan Gerak Ragawi (kekuatan keahlian gerak tubuh); (5) Kecerdasan Musikal (kekuatan keahlian memainkan irama dan nada); (6) Kecerdasan Interpersonal (kekuatan keahlian berhubungan antar-insan); (7) Kecerdasan Intrapersonal (kekuatan keahlian diri); (8) Kecerdasan Naturales (kekuatan keahlian hubungan manusia dengan flora, fauna, dan alam); (9) Kecerdasan Eksistensial (kekuatan keahlian religiositas, spiritualitas, dan filsafat).

Indonesia adalah negeri dengan beragam etnis, bahasa, budaya, dan agama pernah mengukir prestasi yang apik dalam mewujudkan kesatuan dan keharmonisan negeri. Sayangnya prestasi ini tak berlangsung lama... Konflik, perselisihan, dan saling curiga antar kelompok masyarakat telah menjelma menjadi sebuah tradisi baru yang menyedihkan; saling menyesatkan, saling mengkafirkan, saling menyerang, bahkan saling mengeyahkan dengan menghalalkan darah orang/ kelompok yang berbeda. Genangan darah dan melayangnya nyawapun tak dapat dihindarkan. Kerugian moril maupun material pun sudah tak bisa terhitung jumlahnya, bahkan semua ini masih berlangsung sampai sekarang #MIRIS..

Padahal bukan mustahil hal-hal seperti di atas dapat dihindari, atau paling tidak diminimalisir  jika kita mau mengoptimalkan potensi kecerdasan yang ada dalam diri kita. Banyak diantara kita yang pandai berdakwah, ceramah hingga mampu memikat ratusan bahkan ribuan jemaah.... Sayangnya kata-kata dan kalimat yang muncul bukan yang menyejukkan dan menentramkan, melainkan malah memancing emosi massa untuk membenci bahkan menyerang orang/kelompok lain yang berbeda. Penyesatan mungkin sudah menjadi menú seharí-hari dalam khutbah/pidato. Padahal, dengan kecerdasan linguistik kita mampu memilih dan memilah mana kata-kata atau kalimat yang bernada menghujat, menghasut dengan kata-kata yang indah menyejukkan dan menentramkan.

Bahkan tak sedikit diantara kita yang mampu mengkalkulasi, menalar dengan logikanya masing-masing terhadap setiap persoalan yang menghimpit diri dan kelompoknya. Akan tetapi, terkadang kita lebih suka untuk mengedepankan ego dan kepentingan kelompoknya masing-masing. Tak peduli orang/ kelompok lain tak berkenan dengan langkah yang dilakukannya, merasa tak nyaman dengan kebijakan/argumennya, n merasa dipaksa/didzalimi oleh kebijakan/argumen itu. Yang penting diri kita, kelompok kita senang, nyaman, dan menikmatinya. Bukankah seharusnya setiap ide, langkah, kebijakan yang akan kita keluarkan harus selalu melalui logika berpikir orang banyak dan lebih mengedepankan kepentingan umum? Disinilah perlunya mengoptimalkan kecerdasan logic-matematic kita..

Dengan kecerdasan Interpersonal pun harusnya kita udah bisa peka bahkan mampu merekam setiap langkah yang kita lakukan bersama orang/ kelompok lain. Kita hidup dengan lingkungan yang sangat beragam. Seharusnya kita tidak merasa bahwa bisa hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. #WOOOW sombongnya kita jika sudah merasa demikian. Padahal dengan membangun hubungan antar sesama di lingkungan kita, berarti kita telah membuka pintu komunikasi, membentuk jejaring untuk saling mengenal, mengapresiasi, dan memberikan penghargaan terhadap setiap perbedaan yang ada.

Kehidupan yang seperti ini yang mulanya memberikan inspirasi untuk menjadikan Bhineka Tunggal Ika sebagai landasan filosofi dalam berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. Sebuah pondasi yang memungkinkan setiap kelompok hidup sesuai dengan kultur dan ideologi, sesuai pilihannya masing-masing tanpa harus merasa risih dengan orang/kelompok lain. Dari sinilah akan terbentuk sebuah pondasi negeri yang adil, beradab, dan jauh dari prilaku anarki.

Dalam konteks religiositas, spiritualitas, dan filsafat, upaya mengoptimalkan kecerdasan eksistensial itu sangatlah penting dan mendesak untuk sampai saat ini. Tak banyak kan diantara kita yang menyadari bahwa ada yang salah dalam model pendidikan keagamaan di Indonesia. Umumnya lembaga pendidikan (keagamaan) kita mendidik kita dengan cara doktrinal. Artinya, lembaga pendidikan dan juga guru tentunya, lebih menekankan aspek koqnitif yang hanya mementingkan hafalan pada anak didiknya.
Oleh karena itu hanya aspek koqnitif yang dikedepankan, untuk itu jangan heran jika di negeri ini dikenal religius, contohnya setiap tahun jemaah haji meningkat, masjid, gereja, vihara, dan klenteng selalu dipenuhi jemaah, tetapi yaa itu peringkat korupsi negeri ini tak pernah beranjak turun bahkan semakin naik. Artinya, antara kesalehan religius tak seirama dengan kesalehan sosialnya..

Dari buku yang pernah saya baca selama kuliah Psikologi dan Dosen-dosen yang mengajar saya selama ini, Disimpulkan bahwa dalam pendidikan agama, ada dua aspek penting yang dilupakan : (1) aspek afektif dan psikomotorik. Pada aspek afektif, peserta akan disuguhi nilai-nilai filosofis dalam beragama. Tak hanya itu, anak didik juga akan ditekankan jika mereka meninggalkan atau tidak melakukan ibadah, maka akan mendapatkan konsekuensi negatif dalam kehidupan kesehariannya. Tetapi lebih pada korelasi negatif jika kita meninggalkan ajaran dan ritual agama. Contoh: jika anak tidak berpuasa, maka ia akan kehilangan kepekaan sosialnya, dan seterusnya.

Pada aspek psikomotorik, anak didik akan lebih memahami nilai-nilai filosofis dari setiap ajaran dan ritual keagamaan yang mereka yakini, sehingga berpengaruh terhadap perilaku keagamaan dan sosialnya. Aspek ini menekankan akan pentingnya ajaran moral dan sosial dari doktrin-doktrin keagamaan. Ia tidak berhenti pada bagaimana caranya sholat, puasa, bayar zakat, dan naik hají, tetapi lebih jauh pada seberapa besar pengaruhnya ibadah-ibadah itu terhadap perilaku sosialnya. Dengan metode ini anak didik nggak hanya pintar dalam persoalan doktrin dan ritual, tetapi juga mampu mengaplikasikan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya pada sosial kemasyarakatan.

Selain itu, kita juga harus mengasah aspek spiritualitas diri kita. Pada aspek ini hanya kita sendiri yang tahu sejauh mana kepekaan dan ketajaman terhadap kondisi sosial kemasyarakatan di lingkungannya, dan tajam dalam menganalisis suatu persoalan yang menghinggapi diri, orang lain, bahkan negara dan bangsa. spiritualitas nggak hanya menjadi kebanggaan personal individu dan mampu mengantarkan seseorang menjadi lebih arif, bijak dan toleran, disinilah pentingnya Kecerdasan Eksistansial.

Seandainya kita bisa menguasai sembilan (9) kecerdasan dalam diri kita, bukan hal mustahil persoalan apapun dapat terpecahkan, nggak ada arogansi antar orang/kelompok, nggak ada lagi sesat menyesatkan antara orang/kelompok. Kehidupan seperti inilah yang jelas diimpikan oleh setiap warga negara, sebuah kehidupan yang harmonis, tentram, damai.

...sekian...
***

Terima kasih telah membaca Artikel Spirit Multiple Intelligences untuk Keharmonisan Negeri . Jika Anda ingin Copy Paste Artikel ini, Harap cantumkan Link Spirit Multiple Intelligences untuk Keharmonisan Negeri sebagai sumbernya.
Diposting oleh chandra setiawan

Tidak ada komentar :

Posting Komentar