Senin, 17 Maret 2014

Menggali Kerang di Pantai Lumpur

PACITAN | Menggali Kerang di Laut Lumpur gak hanya menjadi Tradisi/Budaya dari daerah Pasuruan ataupun di daerah Kabupaten Indragiri Hilir. Kegiatan ini cukup menarik perhatian banyak orang, kebanyakan orang/nelayan untuk mendapatkan kerang biasanya lewat menyelam ataupun lewat budidaya/karamba. Kegaiatan ini hanya bisa dilakukan di Pantai-pantai yang berlumpur.

Menggali Kerang di Laut Lumpur juga bisa ditemukan di Kabupaten Pacitan, tepatnya di TPI Tawang, Segara Anakan, Sidomulyo, Ngadirojo, Pacitan.


Segara Anakan
Segara Anakan
Segara Anakan
Segara Anakan
Surut Segara Anakan, berlumpur.
(16 Maret 2014)
Dengan berbekal alat yang menyerupai cangkul tapi kecil (wangkil), mereka menggali lumpur di pinggir Pantai segara anakan yang sedang surut untuk mencari kerang. Dengan gigih mereka menggali lumpur di pesisir Pantai yang surut, selain mereka harus konsentrasi menggali dan meraba tanah lumpur pesisir pantai berharap mendapatkan kerang, mereka pun juga ramah menyapa kami yang saat itu kebetulan berkunjung ke lokasi. Tanpa malu mereka ngobrol dengan kami, tanpa malu mereka menawari pekerjaan itu kepada kami, semata-mata hanya agar kami belajar, dan merasakan bagaimana menariknya pekerjaan yang mereka kerjakan.


Segara Anakan
Segara Anakan
Para penggali kerang, Surut Pantai Tawang.
Pekerjaan yang tidak setiap waktu mereka kerjakan itu cukup mampu menghidupi keluarga mereka, tidak cuma kerang yang mereka dapatkan ketika menggali, tapi biota laut yang memiliki harga jual yang tinggipun bisa mereka dapatkan walaupun tidak banyak, seperti .......... 

Diposting oleh chandra setiawan
Posted by: Chandra Setiawan E.PAPER Updated at : 12.47.00

Rabu, 12 Maret 2014

Bullying dan Candaan Tipis Batasnya

Jika kalian suka main-main dengan sosmed (sosial media) pasti kalian sering melihat seseorang menuliskan komentar di status Facebook atau twitter salah satu temannya, "Diem lu, monyong!, hoe gila lu!, atau kadang kata-kata yang kasar" tapi niatnya cuma bercanda.. Dan karena niatnya sih cuma bercanda, dia pun tidak curiga ketika tidak ada balasan dari yang dimaksud.. Menurut kalian lucukah itu?

Seandainya teman yang dia sebut "monyong, gila, atau di maki-maki" itu ikut tertawa sampai-sampai tak sempat membalas komentarnya, mungkin benar bahwa candaan tersebut memang lucu. Lain halnya jika yang dimaksud ternyata memang memiliki bibir agak maju.. Bisa jadi tanpa seorang pun yang tahu, dia lalu menangis atau marah dan mendadak kehilangan rasa percaya diri untuk sekadar membalas komentar tersebut. Pasti sakit kan rasanya dihina seperti itu..??

Meskipun cuma iseng atau bercanda, kemudian seseorang menjadi korban atau trauma itu sudah menjadi bullying namanya, kata kak Seto.. Bahkan menurut Kak Seto, korban tidak harus sampai tersinggung atau terpukul untuk disebut sebagai bullying. Terpukul atau tidak biasanya tergantung karakter korban. Kalau tidak gampang frustrasi, kemungkinan tidak akan jadi masalah baginya.. "Pesan dari saya : Jangan mudah Frustasi ya?!". Hehehe. Dan Pesan dari Kak Seto "Korbannya terpukul atau tidak, tindakannya tetap bullying dan harus dihilangkan!!!".

Sementara itu, menurut Dosen psikologi saya waktu itu, bahwa bullying bisa terjadi dalam kondisi apapun. Termasuk dalam pergaulan di internet, siapapun terutama anak-anak rentan menjadi pelaku maupun korban bullying. Selama ada interaksi dengan media sosial, dalam situasi apapun, di manapun, kapanpun, bisa berpotensi terjadi cyberbullying. Biarpun anak sedang sendirian di kamar, dia bisa online dari HP atau komputer..

Untuk itu, ya diusahakan lah orang tua itu setidaknya bisa mengawasi aktivitas anak di internet, termasuk bagaimana bergaul dan berinteraksi dengan teman-temannya di dunia maya. Sopan santun berlaku di manapun, tak terkecuali di dunia sosial media (sosmed) yang nyaris udah seperti berinteraksi secara langsung tanpa sekat pembatas sedikitpun.


Bullying dan Candaan Tipis Batasnya

...BULYYING...
....STOP NOW..!!!!

Diposting oleh chandra setiawan